Belang Bertempat

Hari ni saya nak cite lain sikit baca dan hadam…

INDONESIA mempunyai jumlah penduduk lebih daripada 270 juta orang yang mendiami puluhan pulau. Di antara pulau yang besar dan mempunyai jumlah penduduk yang ramai ialah Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi (sekadar menyebut beberapa nama pulau).

Prabowo, dua kali bertanding dalam Pilihanraya Presiden (Pilpres) menentang Jokowi untuk menjadi kepala negara Republik Indonesia. Kedua-dua Pilpres itu Jokowi menang tipis. Di Sumatera Jokowi kalah teruk. Di Kalimantan kedudukan seimbang. Datang undi dari Pulau Jawa, Jokowi sapu semua. Itulah yang memenangkan Pak Jokowi.

Jokowi dan Prabowo

Pertandingan cukup sengit sewaktu Pilpres. Kita imbas semula, sebelum pengiraan berakhir dan keputusan rasmi belum diumumkan, Prabowo sudah beberapa kali mengisytiharkan kemenangan di pihaknya.

Saya secara peribadi dari jauh menyokong Jokowi, selalu mengikuti debat antara Adian Napitupulu, pendokong kuat Jokowi dengan Arief Poyuono, pendokong kuat Prabowo.

Termasuk juga Rocky Gerung. Debat sangat panas, selalu terjadi pertengkaran sehingga dilihat hampir mencetuskan pergaduhan.


Pun begitu, selepas berakhir Pilpres dan Jokowi ditabalkan sebagai Presiden Indonesia untuk penggal kedua berturut-turut, dia telah melantik musuh ketatnya Prabowo sebagai Menteri Pertahanan dalam kabinetnya.

Itu sesuatu yang mengejutkan dan lebih mengejutkan lagi ialah Prabowo terus menerima pelantikan itu. Selesai. Berakhirlah sengketa antara keduanya.  Prabowo, setelah menjadi Menhan, dia terus diam.

Dia terus tumpukan tugas besar yang diamanahkan kepadanya untuk menjaga keselamatan Republik Indonesia. Suhu politik Indonesia yang panas serta-merta menjadi dingin dan nyaman.

Baru beberapa hari yang lalu, Deddy Corbuzier, pengacara radio yang terkenal telah mengundang Prabowo ke studionya untuk diwawancara.

Video dimuat turun (upload) pada 13/6/2021 dalam youtube channel Podcast. Ini bermakna baru dua tiga hari yang lalu dan setakat hari ini, views sudah mencecah hampir 8 juta.

Selepas menonton video itu, mendengar penjelasan Prabowo, tiba-tiba timbul rasa kagum terhadap Prabowo tetapi tanpa menghilangkan kekaguman saya terhadap Jokowi.

Berikut saya ringkaskan inti-pati wawancara itu kerana banyak pengajaran yang boleh diambil daripadanya.

Deddy: “Begini Pak, saya penasaran pangen nanya ini, Pak Prabowo dan saya yakin banyak yang mau nanya… kok bapak mau…? Kan bapak waktu itu bersaing di Pemilihan Presiden dengan Pak Jokowi… Terus tiba-tiba bapak diangkat jadi Menhan… Banyak orang kecewa, banyak orang kesal, dan kok bapak mau gitu… kok bapak nggak, wow terus saja melawan Pak Jokowi……”

Dengan nada suara yang lembut Prabowo menjawab dengan tenang: “Jadi gini, ya… Saya juga nggak mengerti kok banyak orang yang bertanya seperti itu, karena bagi saya begini…. er, refail… kita refail, kita refail dalam satu kompetisi, ya kan…? Apakah refail dalam satu kompetisi itu harus jadi lawan? Coba kita ingat waktu kita di sekolah… Kita ikut adu lari… ada yang menang ada yang kalah…. ok, lu dapat piala… ya udah, betul nggak…? Gue main sepak bola, team gue kalah, apakah kita gebuk-gebukan…? Ya, itu adalah menurut saya IQ yang sangat rendah gitu…. Jadi, satu, beliau ingin jadi presiden, gue ingin jadi presiden… Dia mau jadi presiden untuk apa…? Untuk mengabdi… Untuk berbakti… Untuk apa? Untuk Indonesia, kan…? Nah, saya juga begitu…..”

Deddy: “Tujuan sama, mungkin caranya beda, kan…”

Prabowo: “Saya juga mau berbakti, untuk Indonesia… Nah kalo sama-sama mau mengabdi untuk Indonesia, kok harus melawan…..?”

Deddy: “Setelah selesai ini ya…”

Prabowo: “Ya, setelah selesai… Kan lebih baik dua-duanya kerjasama, untuk mengabdi, untuk merah putih…. Jadi ini saya belajar, dalam sejarah… Saya belajar dalam sejarah ya… Saya mau cerita dan ini menjadi semacam panduan untuk saya…. Ada dua peristiwa penting yang saya baca dari sejarah… Yang satu itu di Jepang… Ada dua panglima, sangat kuat… Hideyoshi Toyotomi, dan yang satu lagi, Tokugawa Ieyasu… Ini dua-duanya hebat, dua-duanya sangat kuat…. Satu saat mereka hampir perang… mau berhadapan… Hideyoshi bilang, ok saya mau berunding dulu, sama lawannya itu, sama Ieyasu, ya… Mereka berunding, kemudian Hideyoshi bilang, anda lihat di belakang saya ini, tentera saya, kuat… semangat… jumlahnya banyak…. Saya bisa lihat tentera anda semangat, kuat, jumlahnya banyak…. Besok, bisa anda menang atau saya menang…. Tapi kalo pun saya menang, anak buah saya banyak yang akan mati… Kalo ko menang, anak buah mu jugak akan banyak mati dan luka…. ertinya besok malam, orang tua Jepang, banyak ibu dan bapak Jepang kehilangan anaknya, akan nangis… Saya tau anda cinta Jepang, saya jugak begitu… Kita mau mempersatukan Jepang, dan kita mau Jepang kuat… Untuk apa kita perang…? Apakah nggak lebih baik kita bersatu, untuk mempersatukan Jepang dan Jepang jadi kuat… Si Ieyasu bilang, setelah berfikir, anda bener… Untuk apa kita berperang, mari kita bersatu… Nah! Itu bagi saya sangat besar pelajarannya.

Yang kedua… pelajaran kedua yang saya terima, itu Abraham Lincoln… dari Amerika… Abraham Lincoln, begitu menang, dia memilih salah satu lawan dia, namanya Seward kalo nggak salah… Seward ini senior dia, lebih tua… dan lawan dia sudah lebih 20 tahun…. Dia pilih Seward jadi Secretary of States, di kabinet dia…

Si Seward kaget… Seward tanya, kenapa anda pilih saya? Anda tahu saya nggak suka anda…. Habis tu Abraham Lincoln jawab, saya tahu anda tidak suka saya, saya pun tidak suka anda… tapi… Abraham Lincoln jawab apa… I know that you love the United States of America… and I love the Unites States of America…. So, why don’t we work together, for the United States… You sebetulnya bukan mengabdi untuk saya, saya jugak… Kita berdua mengabdi untuk Amerika Serikat…. Itu saya jugak belajar, oo begitu ya…? Negara besar ya kayak begitu….”

Deddy: “Tapi ada nggak ego yang diturunkan akhirnya, pak…?”

Prabowo: “Begini… kalo kecewa pasti ada dong… kita kan manusiawi… tadinya kan, istilahnya kan kita commit untuk mengabdi, untuk merah putih…. Di situ saya jugak lihat, Pak Jokowi di lingkungannya banyak nggak setuju…. Ajak saya jadi Menteri Pertahanan, boleh nggak…? Ngapain…? Bahaya, nanti dia kudeta lagi…. hahaha, muka gue muka kudeta kalinya…”

Deddy: “Hahaha… Tapi artinya ketika Pak Jokowi ambil keputusan itu, dia juga menurunkan egonya… Jadi sama-sama menurunkan ego….”

Prabowo: “Karena kita… untuk merah putih…”

Deddy: “Mantap…. keren, keren, keren….”

Probowo: “Jadi… di situ… kita kasi pelajaran… ya nggak?”

Deddy: “Ok, saya ngerti dari posisi bapak…. and I salute, with you…”

Prabowo: “That is logic, you know… Bayangkan ya, kalo pemimpin kerna egonya, berantem… untuk jawatan… Jawatan itu tanggungjawab loh…….”

Dan panjang lagi wawancara di atas.

Ikhtibarnya, kita memerlukan pemimpin politik yang berjiwa besar demi Jalur Gemilang dan rakyat Malaysia. – TULISAN A. FAUZI – SM

(Visited 252 times, 1 visits today)

Show More

Related Articles

Back to top button